Open top menu
Friday, January 10, 2014
Dua bersaudara yang saling mengasihi (dongeng dari Korea)



Di sebuah desa di Korea, hiduplah dua bersaudara yang saling mengasihi. Walaupun masing-masing sudah menikah dan punya rumah sendiri, mereka tetap saling memerhatikan.

Mereka masing-masing memiliki sepetak sawah warisan dari orangtua mereka. Saat musim gugur tiba, panen mereka selalu melimpah.

Suatu malam pada musim gugur, sang kakak berpikir,


    
     "Adikku saat ini sedang banyak pengeluaran karena baru menikah. Aku akan meletakkan satu karung beras di lumbungnya diam-diam. Dia pasti tidak akan menerima jika aku menawarkannya lebih dulu."
   
Malam itu, sang kakak membawa sekarung beras dan diam-diam meletakkannya di lumbung adiknya.

Keesokan harinya, saat memeriksa lumbungnya sendiri, sang kakak kaget karena jumlah karung beras di lumbungnya tidak berkurang.
  
     "Aneh sekali. Aku yakin telah memberikan satu karung untuk adikku. Kenapa jumlahnya tidak berkurang?" pikirnya kebingungan.
   
Malamnya, ia kembali membawa sekarung beras dan meletakkannya di lumbung adiknya. Tapi, esoknya, kejadian serupa berulang. Jumlah karung di lumbungnya tetap tidak berkurang.

Malamnya, sang kakak kembali membawa satu karung beras ke lumbung adiknya. Saat itu, bulan purnama, di tengah jalan ia melihat seorang laki-laki berjalan ke arahnya sambil memanggul karung.
Ternyata orang itu adalah adiknya.

    "Kakak, kau mau kemana?" tanya sang adik.
   
    "Kau? kau bawa apa?" tanya kakaknya.

   
Mereka tertawa bersama-sama. Itulah mengapa jumlah karung beras di lumbung masing-masing tidak berkurang. Ternyata kakak dan adik sama-sama ingin memberikan sekarung beras.
Sungguh luar biasa rasa kasih sayang diantara kedua bersaudara itu. Mereka begitu saling perhatian satu sama lain.



Pesan moral : Sayangilah saudaramu. Kamu harus saling membantu karena saudaramu adalah segalanya bagimu. Saat semua orang tidak peduli kepadamu, saudaramu akan selalu ada untukmu.
Read more
Wednesday, January 8, 2014
Pakaian kuno manusia

Orang kuno mengenakan kulit binatang agar tetap hangat.
Tanda-tanda baju tenunan tertua adalah tanda di tanah liat di Pavlon, Cekoslowakia, 26.000 tahun lalu.
Kita mengetahui tentang pakaian kuno yaitu berasal dari ves, patung dan lukisan dinding. Meski warnanya sudah memudar, dari lukisan-lukisan yang ada di kota Pompeii Romawi, yang diawetkan di bawah abu vulkanik, kita dapat melihat bahwa pakaian kuno pada umumnya berwarna-warni.

Pakaian tertua yang bisa diselamatkan adalah dari kuburan orang Mesir, 5000 tahun yang lalu.
Warna biru tua indigo yang berasal dari tanaman indigo, ditemukan pada pakaian orang Mesir yang dikenakan 4.400 tahun lalu.

Ungu Tyrian adalah bahan celupan ungu yang pada zaman kuno bernilai tinggi. Warna ini berasal dari Tyre (Lebanon Modern) dan dibuat dari siput Purpura dan Murex.

Orang-orang seperti orang Mesir kuno biasanya mengenakan alas kaki sederhana atau sepatu yang terbuat dari papirus atau kulit. Tapi pemain drama Yunani Aeschylus konon telah menemukan alas sepatu dengan hak 8 cm.

Wanita Minoa dari 3.500 tahun yang lalu, yang tidak lazim pada masa lampau, sudah mengenakan baju berpinggang ketat. Bagian dada mereka juga biasanya terlihat.

Rakyat biasa Romawi mengenakan toga putih. Pinggiran baju mereka yang berwarna-warni menunjukkan status tertentu.
Para pejabat publik saat bekerja mengenakan toga dengan pinggiran berwarna ungu, yang disebut toga praetexta. Jenderal Romawi awal mengenakan toga yang dicelup warna ungu Tyrian. Sejak pemerintahan Augustus, hanya kaisar yang mengenakan toga ungu.


Pakaian orang Yunani sangat sederhana yaitu hanya beberapa lembar kain wol atau linen yang membungkus tubuh, digunakan sebagai tunik, gaun, atau jubah. Para pemuda mengenakan mantel pendek yang disebut chlamy di luar jubah yang pinggirannya dijahit lalu diikat di bahu. Wanita mengenakan jubah yang disebut chiton, terbuat dari kain persegi. Mereka mengenakan jubah yang lebih panjang, disebut himation.


Di Eropa bagian utara, orang Celtic mengenakan baju hangat, sebagian besar terbuat dari wol dan kulit yang dikeringkan. Wanita mengenakan gaun tebal dan penutup kepala. Pria mengenakan tunik panjang, legging (alas kaki), dan jubah.


Orang Mesir sebagian besar pakaian terbuat dari linen putih. Awalnya, pria mengenakan rok pendek berlipat, kemudian mereka mengenakan rok panjang yang melilit tubuhnya. Wanita Mesir awalnya mengenakan gaun seperti baju ketat. Setelah 1500 SM, pria dan wanita sama-sama mengenakan jubah longgar, terbuat dari kain persegi panjang.


Baju orang Romawi mirip dengan baju orang Yunani. Pria dan wanita mengenakan tunik yang disebut stola (wanita) atau tunica (pria). Warga Romawi diizinkan mengenakan kain hiasan, yang disebut toga, diatas tunik mereka.


Orang Persia kuno diduga sebagai orang pertama yang mengenakan celana panjang, 4000 tahun yang lalu, dengan bagian pergelangan kaki yang ketat.
Read more
Tuesday, January 7, 2014
Balas budi semut kepada merpati (dongeng dari Spanyol)



 Pada suatu sore yang indah sehabis hujan, seekor semut pergi ke sebuah sungai. Setiap hari, ia pergi ke sungai yang sama untuk melepaskan dahaga. Semut tidak menyadari bahwa sehabis hujan, arus sungai menjadi lebih deras.
Saat asyik minum, tanpa diduga ia terbawa arus sungai yang deras.
 
     "Aku pasti tenggelam. Tolong aku! Tolong aku!" semut berteriak ketakutan.
    
Tapi, suaranya kecil sekali sehingga tidak ada yang mendengarnya.

Sementara itu, seekor merpati sedang bersantai di sebuah cabang pohon. Kebetulan, ia melihat semut yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari amukan sungai yang deras.
Merpati merasa kasihan. Ia pun memetik selembar daun dengan paruhnya dan menjatuhkannya ke dekat semut di sungai.

Semut segera naik ke daun itu. Ia mengambang di daun itu sampai akhirnya arus membawanya ke pinggir sungai. Selamatlah jiwa si semut. Ia berterima kasih pada merpati.

     "Terima kasih merpati yang baik. Kau telah menyelamatkan nyawaku," katanya.
    
Tapi, tentu saja merpati tidak mendengar suara semut yang kecil.

Beberapa hari setelah kejadian itu, merpati sedang bertengger di dahan yang sama. Ia tidak menyadari ada seorang pemburu yang hendak menembaknya.



Ketika pemburu itu hampir menembakkan senapannya, semut menggigit kaki sang pemburu. Pemburu berteriak kesakitan dan menjatuhkan senapannya. Teriakan pemburu mengagetkan merpati yang langsung terbang menyelamatkan diri.

     "Terima kasih semut," kata merpati.
    
Semut mendengarnya dan ia senang bisa membalas budi pada merpati.



Pesan moral : Jadilah anak yang pandai membalas budi. Jika kamu ditolong orang lain, ingatlah bahwa kamu juga harus menolong orang lain semampumu. Ingat pula, jika kamu mendapat pertolongan jangan lupa mengucapkan terima kasih.

Read more
Monday, January 6, 2014
Jenazah Orang Mesir



Orang Mesir memandang kematian sebagai langkah menuju hidup yang lebih sempurna di Dunia Berikutnya.
Setiap orang dianggap punya tiga jiwa yaitu ka, ba, dan akh. Agar ketiganya dalam keadaan baik, tubuh harus selalu utuh. Karena itu, orang Mesir mencoba untuk mengawetkan tubuh mereka.

Secara bertahap, orang Mesir mengembangkan teknik pembalseman untuk mengawetkan tubuh raja dan orang kaya yang mampu membayarnya.
Organ tubuh mereka diambil dan disimpan di tempat yang disebut "kendi kanopi" dan tubuh mereka dikeringkan dengan natron (garam).

Tubuh yang sudah dikeringkan diisi dengan serbuk kayu, damar, dan natron lalu dibungkus dengan perban. Tubuh yang diawetkan ini disebut "mumi"
Topeng yang berbentuk wajah orang diletakkan di kepala mumi, lalu dimasukkan ke dalam peti.

Peti anthropoid (berbentuk manusia) mulai digunakan sekitar tahun 2000 SM. Sering kali, mumi diletakkan di dalam tempat penyimpanan yang berisi dua atau tiga peti, yang masing-masing telah diukir dan dicat serta dihias dengan emas dan mutiara.
Peti kayu diletakkan di dalam peti batu atau sarkofagus di dalam tempat penguburan.


Awalnya, doa yang ditujukan untuk jenazah raja diukir pada dinding piramida sebagai "Teks Piramida". Tapi setelah itu doa-doa itu diletakkan pada peti sebagai "Teks Peti". Sejak tahun 1500 SM, doa-doa itu ditulis pada daun papirus di dalam Book of the Dead.  

Untuk membantu menghadapi berbagai macam ujian dan berhasil mencapai Dunia Berikutnya, orang yang sudah meninggal memerlukan amulet dan Book of the Dead yang berisi mantra sihir dan peta.


Saat meletakkan topeng di kepala mumi, pemimpin prosesi memakai topeng yang mewakii Anubis, dewa berkepala anjing.
Read more