Open top menu
Showing posts with label dongeng. Show all posts
Showing posts with label dongeng. Show all posts
Monday, January 27, 2014
Mengapa tidak ada harimau di Kalimantan? (dongeng dari Indonesia)




Suatu hari, pada masa lampau, raja harimau mengumpulkan pasukan harimaunya. Mereka membahas kelaparan yang sedang melanda Pulau Jawa. Harimau muda berkata,

    "Rajaku, makanan di Pulau Jawa mulai habis. Kita harus mencari persediaan makanan ke pulau lain."
   
Raja harimau pun diam menyimak kata-kata harimau muda. Lalu, ia memotong sehelai kumisnya. Harimau muda segera mengambil potongan kumis sang raja.

    "Kalian pergilah ke Pulau Kalimantan dan bawalah kumisku itu. Katakan pada penduduk Kalimantan bahwa mereka harus menyediakan kita makanan. Jika tidak, kita akan menaklukkan pulau mereka!" kata raja harimau.

Prajurut harimau yang berjumlah 40 ekor langsung pergi menuju Kalimantan. Mereka mengarungi lautan hingga akhirnya berlabuh di Pulau Kalimantan.

Namun, mereka kaget sekali karena hanya menemukan seekor kancil kurus di bibir pantai. Kancil pun segera berlari. Tapi terlambat, tubuhnya yang gemetaran sudah dikelilingi 40 harimau.

    "Kau mata-mata, ya?" tanya panglima harimau.
   
    "Bukan. Aku bukan mata-mata. Aku hanya kebetulan lewat," kata kancil.


   
    "Di mana rajamu? kami datang untuk meminta makanan. Jika rajamu menolak, kami akan menaklukkan pulau ini. Lihat ini, ini potongan kumis dari wajah raja kami," kata harimau muda.
   
    "Ya ampun, kumis ini besar sekali. Raja harimau itu pasti sangat besar dan keji," kata kancil dalam hati sambil memungut kumis raja harimau.
   
Kancil tidak tahu harus menjawab apa. Sebab di Kalimantan tidak ada raja. Kancil memutar otak mencari akal.

    "Aku akan membawa kumis ini kepada rajaku. Kalian beristirahatlah dulu," kata kancil.
   
Kancil pergi menuju ke dalam hutan. Saat sedang berpikir, kancil melihat sahabatnya, landak. Kancil mendapat ide cemerlang.

    "Hai, landak. Kemari kau!" kata kancil.
   
    "Aku butuh durimu. Satu saja," kata kancil.
   
    "Buat apa?" jawab landak.
   
    "Ini semua demi keselamatan seluruh binatang di Kalimantan," kata kancil.


   
    "Baiklah. Jika ini begitu penting," kata landak sambil mencabut durinya yang paling panjang dan tajam.
   
    "Hati-hati, duriku sangat tajam," kata landak mengingatkan kancil. Kancil pun segera pergi membawa duri landak yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
   
Sementara itu di pantai, para harimau masih tertidur. Kancil membangunkan panglima harimau. Lalu, panglima harimau dan pasukannya segera bangun dan mengepung kancil.
   
    "Kau sudah bertemu dengan rajamu dan menyampaikan pesan kami?" kata panglima harimau.

    "Yaw, twentu swajuu. Iya suwdah siuaupp berpeuwrang dengwan kawlian," kata kancil sambil menggigit duri landak sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak teratur.

    "Apa?" tanya harimau tua kaget.

    "Sewbaguai buwktinya iya mengirimpkant kwumisnyua," kata kancil sambil memuntahkan duri landak dari mulutnya dan menyerahkannya pada para harimau.

    "Puahh! Berat sekali kumis ini," lanjut kancil.

    "Ini kumis rajamu?" kata para harimau dengan nada suara yang tidak keras dari biasanya.

    "Ya, itu kumis paling kecil dari wajah raja kami. Ia menerima tantangan kalian," kata kancil.

    "Kita harus melapor kepada raja secepatnya," kata harimau muda.

Para harimau segera pulang. Setibanya di Jawa, mereka menemui raja harimau.

    "Ada kabar apa dari Kalimantan?" tanya raja harimau.

    "Yang Mulia, saat tiba disana, kami bertemu salah satu pejabat istana mereka. Kami menyampaikan pesan anda melalui dirinya. Pejabat istana itu membawa hadiah kumis dari wajah rajanya," kata harimau muda sambil menyerahkan duri landak.

Raja harimau memerhatikan duri landak yang disangkanya sebagai kumis Raja Kalimantan. Ia berusaha membengkokkan duri landak yang keras dan menyentuh ujung durinya yang tajam. Tapi, tidak bisa dibengkokkan. Raja harimau diam sejenak, lalu berkata,

    "Aku telah berubah pikiran. Pulau Kalimantan terlalu jauh. Kita ke Sumatra saja untuk berburu gajah."

Sejak saat itu, tidak ada harimau di Pulau Kalimantan. Itu semua berkat kecerdikan si kancil yang memanfaatkan duri si landak.





Pesan moral : Jadilah anak yang cerdik dan banyak akal. Tetaplah tenang saat menghadapi persoalan. Jika tidak tenang, justru kamu akan celaka.
Read more
Thursday, January 23, 2014
Anak Burung cuckoo yang durhaka (dongeng dari Rusia)



Dahulu kala, hiduplah induk cuckoo (sejenis tekukur) yang mempunya tiga anak. Suatu hari, induk cuckoo sakit parah hingga tidak bisa mencari makan sendiri.

Namun demikian, ketiga anaknya tidak merawat induk cuckoo. Mereka tidak mencarikan makanan untuk ibunya. Mereka hanya bermain sepanjang hari dan tidak mengacuhkan ibu.

Induk cuckoo berkata kepada anak tertuanya, "Tolong ambilkan ibu air, ibu haus sekali!"

Anak tertua malas-malasan menjawab, "Di luar dingin sekali, Ibu. Aku tidak bisa mengambil airnya."



Sama seperti kakaknya, kedua adiknya juga tidak mau mengambilkan ibunya air, walaupun hanya setetes. Akhirnya, karena haus yang tidak tertahankan, induk cuckoo terpaksa terbang mengambil sendiri air minum. Tenaganya lemah sekali sehingga terbangnya sangat pelan dan tidak beraturan.

Induk cuckoo sakit hati karena sikap anak-anaknya. Sejak saat itu, ia tidak mau lagi melihat anak-anaknya. Sejak itu pula anak burung cuckoo tidak mengenal ibunya dan sebaliknya ibunya juga tidak mengenal anak-anaknya.

Seekor induk cuckoo terbiasa bertelur di sarang burung lain, lalu meninggalkannya. Saat anak-anaknya menetas, mereka harus makan sendiri dan mempertahankan hidup sendiri.



Pesan moral : Sayangilah ibumu. Sebab, dialah yang telah melahirkan dan merawatmu sewaktu kecil. Jangan pernah mengecewakan mereka. Kalau tidak, kamu akan durhaka dan mendapat dosa.
Read more
Monday, January 20, 2014
Anak yang pelupa (dongeng dari Kanada)



Suatu hari seorang ibu hendak mencuci pakaian. Ia merebus air panas untuk mencuci pakaiannya. Tapi, ia baru sadar bahwa sabunnya telah habis. Ia memanggil anaknya yang berusia tujuh tahun dan menyuruhnya membeli sabun di toko.

    "Jangan lupa ya! Kamu harus berkata 'sabun' sepanjang jalan agar tidak lupa!" kata ibu.
   
Si bocah keluar rumah sambil berkata 'sabun! sabun! sabun!" agar tidak lupa. Untuk menghemat waktu, si bocah melewati jalan pintas. Jalan itu berlumpur karena semalaman turun hujan deras.

Si bocah berusaha berjalan dengan hati-hati. Tapi, karena terlalu berkonsentrasi untuk mengucapkan "sabun! sabun! sabun!", ia pun terjatuh di sebuah kubangan lumpur. "Aduh," kata si bocah.

Saat bangun, ia lupa mengucapkan kata 'sabun'.

     "Wah bahaya, aku lupa mesti mengucapkan apa ya?" pikir si bocah kebingungan.
   
     "Aku lupa mesti mengucapkan apa ya?" terus saja si bocah mengucapkan kalimat itu.
   
Karena tidak hati-hati, ia terjatuh lagi di lumpur yang licin.

     "Hei bocah, hati-hati jalannya lebih licin daripada sabun!" seorang ibu yang lewat mengingatkannya.
   
     "Aha, sabun. Ya, aku harus membeli sabun," kata si bocah kegirangan karena ingat apa yang ia harus beli.
   
     "Sabun! Sabun! Sabun!" begitu si bocah berkata sambil meneruskan perjalanannya menuju toko.
   
Sesampainya di toko, si bocah langsung membeli sabun dan pulang lewat jalan yang tidak becek. Sesampainya di rumah, ibu melihat seluruh tubuh si bocah penuh lumpur.



     "Waduh,nak. Kau harus mandi memakai sabun yang banyak. Kau tidak lupa membeli sabun, kan?" kata ibu.
   
     "Tidak, Bu. Hampir saja aku lupa. Tapi, aku akhirnya ingat lagi," kata si bocah sambil memberikan sabun pada ibunya.
   
     "Bagus, kau memang anak pintar," puji ibu.
   
   
   
Pesan moral : Belajarlah dengan rajin agar kamu tidak menjadi orang yang pelupa. Saelain itu, agar tidak menjadi pelupa, kamu juga harus menghafalnya.
Read more
Thursday, January 16, 2014
Nelayan muda dan seorang guru bahasa (dongeng dari Iran)



Seorang nelayan muda bernama Arya mengundang seorang guru bahasa di desanya untuk melaut bersamanya di Laut Kaspia. Guru bahasa duduk santai di kursi empuknya di atas perahu milik Arya. Ia bertanya kepada Arya,



     "Akan seperti apa cuaca hari ini?"
   
Arya memeriksa arah angin melihat posisi matahari lalu mengerutkan dahinya.

     "Aku menurut, hari ini mau ada badai," jawab Arya.
   
Guru bahasa kaget mendengar bahasa Arya yang kacau balau.

     "Arya, kamu seharusnya berkata 'menurutku', bukannya 'aku menurut'. Kamu tidak pernah belajar tata bahasa, ya? kritik guru bahasa.
   
Arya mengangkat kedua bahunya sambil tertawa, "Aku tidak peduli dengan tata bahasa."

Guru bahasa menggelengkan kepala mendengar jawaban Arya.

     "Jika kau tidak tahu tata bahasa, sisa hidupmu akan sia-sia nantinya," kata guru bahasa.
   
Tak lama kemudian, seperti yang diperkirakan Arya, badai tampaknya akan segera datang. Awan gelap mulai berkumpul di langit. Angin kencang bertiup menimbulkan ombak-ombak besar. Dalam sekejap, perahu Arya mulai kemasukan air laut.



Khawatir dengan badai yang akan datang, Arya bertanya kepada guru bahasa,

     "Apakah anda pernah belajar berenang?"
   
     "Tidak. Untuk apa aku belajar berenang?" kata guru bahasa.

     "Kalau begitu, sisa hidup Anda akan sia-sia karena perahu kita akan tenggelam ke dasar laut dalam beberapa menit lagi," kata Arya.

Guru bahasa ketakutan sekali. Ternyata, tata bahasa bukanlah segalanya. Saat di laut, kamampuan berenanglah yang sangat penting.





Pesan moral : Kuasailah berbagai keahlian agar kamu menjadi orang yang serba bisa. Kepintaran tidak selalu bisa menolongmu, keahlian juga kamu perlukan. Jadi, belajarlah pengetahuan yang berguna bagimu sebanyak mungkin.     
Read more
Wednesday, January 15, 2014
Laba-laba dan lalat (dongeng dari Filipina)


Tuan laba-laba sangat ingin menikahi Nona Lalat. Sudah sering ia menyatakan cinta kepada Nona Lalat, tapi selalu saja ditolak. Nona Lalat tidak suka kepada Tuan Laba-laba.

Suatu hari, Tuan Laba-laba mendatangi rumah Nona Lalat. Nona Lalat segera masuk ke rumah dan mengunci semua pintu dan jendela.

Tuan laba-laba kecewa melihat perlakuan Nona Lalat. Tapi, ia tidak putus asa. Esoknya, ia kembali mendatangi rumah Nona Lalat.

Namun, kali ini Nona Lalat sudah siap dengan jebakan. Ia telah menyiapkan air yang mendidih. Ia sengaja membuka salah satu jendela. Saat Tuan Laba-laba mengintip lewat jendela, ia akan menyiramkan air mendidih ke wajahnya.

     "Nona Lalat, Nona Lalat, apakah kau ada di rumah?" teriak tuan Laba-laba, tapi tidak ada jawaban dari Nona Lalat.

     "Nona Lalat, Nona Lalat, apakah kau ada di rumah?" teriak Tuan Laba-laba lagi.
   
Tidak ada sahutan juga. Tuan Laba-laba, melihat salah satu jendela rumah Nona Lalat terbuka. Ia bergegas ke sana untuk melihat ke dalam rumah. Saat wajahnya mendekat ke jendela, Nona Lalat segera menyiramkan air mendidih ke wajah Tuan Laba-laba.


Tuan Laba-laba sangat marah sekali. Ia bersumpah,
      "Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku dan keturunanku akan selalu mengejarmu. Kami tidak akan pernah memberimu kedamaian! Dengar itu!"

Tuan Laba-laba menepati ancamannya. Bahkan, sampai sekarang, laba-laba sangat membenci lalat.



Pesan Moral : Jika tidak menyukai ajakan seseoang, tolaklah dengan cara yang baik. Jangan sampai membuat orang lain marah. Satu lagi, jangan suka menyinggung perasaaan orang lain.    
Read more
Tuesday, January 14, 2014
Satu buah banyak manfaat (dongeng dari India)



Di sebuah desa di India, ada seorang saudagar kaya. Walaupun ia hidup bergelimang harta, sutapi ia sangat kecewa pada anaknya yang pemalas dan bodoh.

Suatu hari, istrinya datang menemuinya dan berkata,

     "Suamiku, anak kita sudah cukup dewasa untuk menikah. Ia sudah berubah sekarang. Ia tidak malas lagi. Ia juga anak yang pintar."
   
Tapi, saudagar tidak mempercayai kata-kata istrinya yang memang selalu membela anaknya.

     "Kau selalu membela anakmu. Tapi baiklah, untuk memuaskanmu, aku akan menguji anak kita. Berikan padanya uang satu rupee dan suruh ia pergi ke pasar membeli satu barang yang bisa dimakan, satu barang yang bisa diminum, dan satu barang yang bisa ditanam," kata saudagar.
   
Istri saudagar segera memberikan tugas itu pada anaknya.

     "Bagaimana aku bisa membeli semua barang itu dengan hanya satu rupee?" pikir anak saudagar.
   
Saat berjalan di pasar dengan wajah bingung, ia bertemu dengan gadis anak seorang pandai besi.

     "Apa yang merisaukan hatimu?" tanya si gadis.
   
Anak saudagar pun menceritakan tugas yang diberikan ayahnya.

     "Ah, itu mudah. Kau belikan saja semangka," kata si gadis.
   
     "Selain bisa dimakan dan dikunyah, semangka mengandung banyak air dan bijinya bisa ditanam."
   
Anak saudagar melakukan apa yang dikatakan si gadis dan membawa semangka kepada ayahnya. Saudagar kaget dengan kecerdikan anaknya.

    "Sebenarnya anak perempuan pandai besi yang menyuruhku membeli semangka," kata anak saudagar.
   
Akhirnya, saudagar menikahkan anaknya dengan anak perempuan pandai besi. Sejak saat itu, mereka hidup lebih bahagia. Lalu, anak saudagar mau bekerja dengan keras.



Pesan moral: Jadilah anak yang cerdik dan pintar. Bagaimana caramu agar menjadi cerdik dan pintar? Ya, tentu saja dengan belajar dengan rajin dan banyak membaca.
Read more
Friday, January 10, 2014
Dua bersaudara yang saling mengasihi (dongeng dari Korea)



Di sebuah desa di Korea, hiduplah dua bersaudara yang saling mengasihi. Walaupun masing-masing sudah menikah dan punya rumah sendiri, mereka tetap saling memerhatikan.

Mereka masing-masing memiliki sepetak sawah warisan dari orangtua mereka. Saat musim gugur tiba, panen mereka selalu melimpah.

Suatu malam pada musim gugur, sang kakak berpikir,


    
     "Adikku saat ini sedang banyak pengeluaran karena baru menikah. Aku akan meletakkan satu karung beras di lumbungnya diam-diam. Dia pasti tidak akan menerima jika aku menawarkannya lebih dulu."
   
Malam itu, sang kakak membawa sekarung beras dan diam-diam meletakkannya di lumbung adiknya.

Keesokan harinya, saat memeriksa lumbungnya sendiri, sang kakak kaget karena jumlah karung beras di lumbungnya tidak berkurang.
  
     "Aneh sekali. Aku yakin telah memberikan satu karung untuk adikku. Kenapa jumlahnya tidak berkurang?" pikirnya kebingungan.
   
Malamnya, ia kembali membawa sekarung beras dan meletakkannya di lumbung adiknya. Tapi, esoknya, kejadian serupa berulang. Jumlah karung di lumbungnya tetap tidak berkurang.

Malamnya, sang kakak kembali membawa satu karung beras ke lumbung adiknya. Saat itu, bulan purnama, di tengah jalan ia melihat seorang laki-laki berjalan ke arahnya sambil memanggul karung.
Ternyata orang itu adalah adiknya.

    "Kakak, kau mau kemana?" tanya sang adik.
   
    "Kau? kau bawa apa?" tanya kakaknya.

   
Mereka tertawa bersama-sama. Itulah mengapa jumlah karung beras di lumbung masing-masing tidak berkurang. Ternyata kakak dan adik sama-sama ingin memberikan sekarung beras.
Sungguh luar biasa rasa kasih sayang diantara kedua bersaudara itu. Mereka begitu saling perhatian satu sama lain.



Pesan moral : Sayangilah saudaramu. Kamu harus saling membantu karena saudaramu adalah segalanya bagimu. Saat semua orang tidak peduli kepadamu, saudaramu akan selalu ada untukmu.
Read more
Tuesday, January 7, 2014
Balas budi semut kepada merpati (dongeng dari Spanyol)



 Pada suatu sore yang indah sehabis hujan, seekor semut pergi ke sebuah sungai. Setiap hari, ia pergi ke sungai yang sama untuk melepaskan dahaga. Semut tidak menyadari bahwa sehabis hujan, arus sungai menjadi lebih deras.
Saat asyik minum, tanpa diduga ia terbawa arus sungai yang deras.
 
     "Aku pasti tenggelam. Tolong aku! Tolong aku!" semut berteriak ketakutan.
    
Tapi, suaranya kecil sekali sehingga tidak ada yang mendengarnya.

Sementara itu, seekor merpati sedang bersantai di sebuah cabang pohon. Kebetulan, ia melihat semut yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari amukan sungai yang deras.
Merpati merasa kasihan. Ia pun memetik selembar daun dengan paruhnya dan menjatuhkannya ke dekat semut di sungai.

Semut segera naik ke daun itu. Ia mengambang di daun itu sampai akhirnya arus membawanya ke pinggir sungai. Selamatlah jiwa si semut. Ia berterima kasih pada merpati.

     "Terima kasih merpati yang baik. Kau telah menyelamatkan nyawaku," katanya.
    
Tapi, tentu saja merpati tidak mendengar suara semut yang kecil.

Beberapa hari setelah kejadian itu, merpati sedang bertengger di dahan yang sama. Ia tidak menyadari ada seorang pemburu yang hendak menembaknya.



Ketika pemburu itu hampir menembakkan senapannya, semut menggigit kaki sang pemburu. Pemburu berteriak kesakitan dan menjatuhkan senapannya. Teriakan pemburu mengagetkan merpati yang langsung terbang menyelamatkan diri.

     "Terima kasih semut," kata merpati.
    
Semut mendengarnya dan ia senang bisa membalas budi pada merpati.



Pesan moral : Jadilah anak yang pandai membalas budi. Jika kamu ditolong orang lain, ingatlah bahwa kamu juga harus menolong orang lain semampumu. Ingat pula, jika kamu mendapat pertolongan jangan lupa mengucapkan terima kasih.

Read more
Friday, December 27, 2013
Kambing tua yang bijaksana (dongeng dari Kanada)



Induk kambing menemui kambing tua bijaksana untuk meminta nasihat.

     "Anakku telah dibunuh serigala. Engkau kambing yang bijaksana, pikirkanlah sesuatu untuk menyelamatkan kita dari serigala." kata induk kambing.
     
Kambing tua berpikir dan terus berpikir. "Aha!" katanya. Akhirnya, ia mendapat ide.
Kambing tua pergi ke sebuah tebing dan mulai memanjatnya. Awalnya, ia terjatuh. Lama-lama ia berhasil memanjat.

Di atas tebing hampir tidak ada rumput. Kambing tua pun mencoba makan makanan baru, yaitu lumut yang banyak ditemukan di tebing. Awalnya terasa aneh. Tapi, lama-lama lidah kambing tua terbiasa.

Kambing tua mengajak kambing lain tinggal di tebing. Kambing tua mengajarkan mereka memanjat. Tidak lama, seluruh kambing tinggal di tebing.

Suatu hari, serigala keluar dari sarangnya. Perutnya terasa lapar. Ia mencari makanan favoritnya, daging kambing. Tapi, betapa kagetnya serigala karena tidak menemukan satu ekor kambing pun di padang rumput.

     "Kemana semua kambing?" serigala bertanya-tanya sendiri.

Tiba-tiba, ia melihat kambing-kambing di atas tebing.

     "Apa yang sedang kalian lakukan di atas tebing?" seru serigala.

     "Kami tinggal disini agar kau tidak bisa mrmbunuh kami," jawab kambing tua.



Serigala mencoba memanjat tebing, tapi tidak bisa. Ia selalu terjatuh.
Melihat hal itu, para kambing menertawai serigala. Kemudian, serigala berkata, "Turunlah!" kata serigala dengan geram.

     "Disini banyak rumput segar," rayunya.

     "Kau saja yang makan rumput," kata kambing tua disambut tawa para kambing.

Serigala pergi sambil marah. Sejak saat itu, kambing tinggal di tebing dan disebut kambing gunung. Mereka tidak pernah diganggu serigala lagi selamanya.



Pesan moral : Jadilah anak yang cerdik dan bijaksana. Carilah cara yang paling mudah untuk menyelesaikan masalah. Jangan terlalu membebani diri dengan masalah. Mintalah bantuan orang dewasa atau orang yang lebih ahli jika kamu tidak mampu menyelesaikannya sendiri.   
Read more
Sunday, December 22, 2013
Dua Ibu yang berduka (dongeng dari Aljazair)




Emir Hasan,salah satu pangeran di negeri Aljazair, suatu hari melakukan perjalanan mengunjungi rakyatnya. Di suatu tempat, ia melihat seorang wanita sedang berduka dan menangis.
Emir Hasan pun bertanya mengapa wanita itu menangis.

     "Aku berduka karena anakku telah meninggal," kata wanita itu.

     "Apa yang ia lakukan selama hidupnya?" tanya Emir.

     "Ia bekerja untukku. Aku ini janda miskin dan dia menafkahiku. Sekarang, aku tidak punya siapa-siapa lagi," kata wanita itu.

     "Hentikan tangisanmu," kata Emir.
   
     "Aku akan berikan engkau hadiah seekor keledai. Keledai itu akan bekerja menggantikan anakmu dan kau akan merasa nyaman lagi seperti saat anakmu masih hidup," lanjut Emir.


Emir Hasan kembali melanjutkan perjalanannya. Dua hari berjalan, Emir kembali menemukan wanita lain yang sedang menangis di atas kuburan anaknya.

     "Apa yang anakmu lakukan selama hidupnya?" tanya Emir.

     "Dia suka berkumpul dengan orang-orang terpandang dan kaum bangsawan. Saat mereka pergi, anakku selalu mengikuti mereka. Dia tidak mau bergaul dengan orang dari kalangan rendah," kata wanita itu.

     "Teruslah menangis, Ibu dari anak yang sombong. Karena kami tidak bisa mengobati rasa kehilanganmu," kata Emir.



Pesan moral : Jangan jadi anak yang sombong. Jadilah anak yang rendah hati dan baik budi. Semua orang menyukai anak yang baik. Tidak ada yang suka dengan anak yang sombong.   


Read more
Saturday, December 21, 2013
Anak Perempuan yang suka membantah orang tuanya (dongeng dari Skotlandia)


Dahulu kala, ada seorang anak perempuan yang tidak pernah menuruti nasihat orang tuanya. Ia selalu membantah jika dinasihati orang tuanya.

Suatu hari, anak perempuan itu berkata pada ibunya, "Aku mendengar cerita orang tentang penyihir tua. Aku penasaran ingin bertemu dengannya."

    "Penyihir itu orang jahat. Ia adalah manusia yang suka memuja setan. Jika kau menemuinya, kau akan celaka. Ingat nasihat ibu! Jika kamu tetap berangkat, kau bukan lagi anak ibu," kata ibunya melarang.
   
Tapi, si anak perempuan tidak mau menurut. Ia pergi ke rumah penyihir tua secara sembunyi-sembunyi. Saat tiba di rumah penyihir tua, ia ditanya, "Mengapa engkau pucat pasi?"

     "Aku baru saja melihat makhluk menakutkan," kata anak perempuan itu sambil gemetaran.

     "Apa yang kau lihat?" tanya penyihir tua.

     "Aku melihat makhluk hitam di tangga rumahmu," ujar anak perempuan itu.

     "Oh, itu anjing hitam dari neraka," kata penyihir tua.

     "Lalu, aku melihat makhluk merah," kata anak perempuan.

     "Oh, itu penjagal dari neraka," jawab penyihir tua.
   
     "Tapi yang paling menakutkan adalah saat aku mengintip jendela. Aku tidak melihatmu, tapi melihat makhluk berkepala api," kata si anak perempuan.
   
     "Berarti engkau melihat aku dalam bentuk asliku," jawab penyihir tua sambil tertawa menyeramkan.
   
     "Aku telah menunggumu lama sekali. Sekarang kau akan memberiku kehangatan," kata penyihir tua.
   
Penyihir tua mengubah si anak perempuan menjadi balok kayu. Ia melemparkan balok kayu ke perapian. Apinya semakin besar menyala.


     "Ah, hangat sekali. Aku tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini," kata penyihir tua sambil menghangatkan badannya dekat perapian.
   
Itulah nasib bagi anak yang suka membantah pada orang tuanya.



Pesan moral : Jangan pernah sekalipun membantah orang tuamu. Turutilah nasihat dan perintah orang tua. Orang tuamu tahu apa yang terbaik untukmu. Anak yang suka membantah orang tua, akan mendapat nasib yang jelek.
Read more
Thursday, December 19, 2013
Pangeran Berhidung Besar (dongeng dari Prancis)



Dahulu kala, raja membuat lelucon tentang penyihir yang berhidung besar. Penyihir marah mendengar lelucon raja dan mengutuknya, "Raja, suatu saat kau akan punya anak yang berhidung besar."

Benar saja, beberapa bulan kemudian, ratu melahirkan seorang bayi yang berhidung besar. Anak itu diberi nama Pangeran Andre.
Tidak mau mengalah dengan kutukan penyihir, raja memerintahkan para pembantunya agar mengajarkan pada Pangeran Andre bahwa hidung besar adalah hidung yang normal. Sedangkan, hidung kecil adalah hidung yang tidak normal.

Saat Pangeran Andre dewasa, raja menjodohkannya dengan Putri Rosebud dari kerajaan tetangga. Pangeran Andre bersama pembantunya pergi ke istana Putri Rosebud.
Di sepanjang jalan, orang terheran-heran dan tersenyum kecil melihat hidung Pangeran Andre yang besar. Pangeran Andre kebingungan melihat orang-orang itu.

     "Mereka iri dengan hidung anda. Sebab, hidung mereka kecil dan tidak normal," kata pembantu Pangeran Andre.


   
Keesokannya, Pangeran Andre sampai di istana Putri Rosebud. Ayah Putri Rosebud dan para pembesar istana tertawa melihat hidung Pangeran Andre.
Pangeran Andre kebingungan dengan sikap mereka yang mempermasalahkan hidungnya.

     "Bukankah hidung kecil mereka yang tidak normal? Mengapa mereka justru mentertawakan hidungku?" pikirnya.
   
Putri Rosebud datang, Pangeran Andre hendak mencium tangannya. Tapi, ia tidak bisa mencium tangan sang putri karena terhalang hidungnya yang besar. Akhirnya ia sadar,

     "Ah, rupanya hidungkulah yang tidak normal," katanya.
   
Tiba-tiba, hidungnya mengecil. Ternyata, kutukan penyihir itu akan hilang jika Pangeran Andre dengan jujur mengakui keanehan hidungnya. Sejak saat itu, Pangeran Andre dan Putri Rosebud hidup bahagia selamanya.




Pesan moral : Jadilah anak yang jujur. Jangan malu dengan kondisi fisikmu. Sebab, itu adalah ciptaan Tuhan. Jika kamu malu, berarti kamu menyalahkan Tuhan.
Read more
Wednesday, December 18, 2013
Semut yang hemat (dongeng dari Mesir)



Di zaman Mesir Kuno, ada seorang raja yang adil dan bijaksana. Raja sangat mencintai rakyatnya. Raja juga dikenal sebagai penyayang binatang.
Suatu hari, saat raja berjalan-jalan, ia menemui seekor semut. Semut merasa senang dan bangga dikunjungi raja.

     "Bagaimana kabarmu, semut?" tanya sang raja.
   
     "Hamba baik-baik saja, Baginda," jawab semut gembira.
   
     "Dari mana saja kau?" tanya raja.
   
     "Hamba sejak pagi pergi mencari makanan. Tetapi, sampai sekarang belum juga mendapatkannya, Baginda," jawab semut.
   
     "Jadi, sejak pagi kau belum makan?" tanya raja.
   
     "Benar, Baginda," jawab semut kembali.
   
Raja termenung sejenak, kemudian berkata,
     "Hai semut! Berapa banyak makanan yang kau perlukan dalam setahun?"
   
     "Hanya sepotong roti saja, Baginda," jawab semut.
   
     "Kalau begitu, maukah kau kuberi sepotong roti untuk makananmu setahun?" kata raja.
   
     "Hamba sangat senang, Baginda," jawab semut.
   
Raja lalu membawa semut ke istananya. Semut sangat gembira karena ia tidak perlu susah-susah lagi mencari makanan untuk setahun.

     "Sekarang, masuklah ke dalam tabung yang telah kuisi sepotong roti ini!" perintah sang raja.

     "Terima kasih, Baginda. Hamba akan masuk," jawab semut.

     "Setahun yang akan datang, tabung ini baru akan kubuka," ujar sang raja lagi.

     "Hamba sangat senang, Baginda," kata semut.



Tabung berisi roti dan semut itu pun segera ditutup rapat oleh sang raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus sehingga udara tetap masuk ke dalamnya. Tabung tersebut kemudian disimpan di ruang khusus dalam istana.
Waktu berlalu, akhirnya telah genap setahun. Sang raja teringat janjinya pada semut. Perlahan-lahan, raja membuka tutup tabung.
     "Bagaimana kabarmu, semut?" tanya sang raja.

     "Keadaan hamba baik-baik saja, Baginda," jawab semut.

     "Tidak pernah sakit selama setahun di dalam tabung?" tanya raja kembali kepada semut.

     "Tidak, Baginda. Keadaan hamba tetap sehat selama setahun," jawab semut dengan tersenyum.

Kemudian sang raja melihat ternyata roti yang dia sediakan untuk semut masih tersisa separuh.

     "Mengapa roti pemberianku kau sisakan separuh?" tanya sang raja.
     "Bukankah dalam setahun kau memerlukan sepotong roti. Mengapa tak kau habiskan?" tanya raja kembali kepada semut.
   
     "Begini, Baginda. Roti itu memang sengaja hamba sisakan separuh. Sebab, hamba khawatir jangan-jangan Baginda lupa membuka tutup tabung ini. Kalau Baginda lupa membukanya, hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi, untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali," jawab semut panjang lebar.
   
Sang raja terkejut mendengar penjelasan semut. Kemudian, ia tersenyum dan berkata,
     "Kau semut yang hebat. Kau dapat menghemat kebutuhanmu. Hal ini akan kusiarkan ke seluruh negeri agar rakyatku dapat mencontohmu. Kalau semut saja dapat menghemat kebutuhannya, mengapa manusia justru hidup boros?"
   


Pesan moral : Biasakan hidup hemat dan jangan boros, jika memiliki uang yang banyak, tabunglah. Jangan dihabiskan hanya untuk memuaskan keinginanmu.
Read more
Tuesday, December 17, 2013
Nasib burung hantu pemalas (dongeng dari Rusia)



Dahulu kala, hiduplah seekor burung hantu abu-abu di sebuah hutan yang lebat. Burung hantu sangat pemalas. Ia tidak suka terbang berpindah dari satu dahan ke dahan lain dan hanya berdiam di satu dahan seharian.

Pada suatu hari, burung hantu sedang tidur di dahannya. Tiba-tiba, burung pelatuk hinggap di batang pohon tidak jauh dari burung hantu. Burung pelatuk mulai mematuki batang pohon dengan cepat.

Suara bising burung pelatuk membangunkan burung hantu. Ia menggerakkan sayapnya sedikit dan dengan malas mengusir burung pelatuk.
    
     "Mengapa kau berisik sekali? Kau mengganggu tidurku, pelatuk jahat," kata burung hantu.
   
     "Aku sedang mencari makanan," jawab burung pelatuk.
   
     "Carilah makanan di tempat lain. Enyahlah kau!" bentak burung hantu.
   
     "Semua orang sibuk bekerja, hanya engkau yang bermalas-malasan," kata burung pelatuk sambil pergi.
   
Burung hantu kembali tidur. Tapi, belum sempat menutup mata, ia mendengar suara siulan menakutkan magpie (sejenis burung gagak di daratan Eropa). Suaranya keras sekali karena magpie bertengger tidak jauh dari burung hantu.

     "Hei, berisik! Pergilah kau!" usir burung hantu.



Magpie tidak takut pada burung hantu.
     "Mengapa engkau tidur terus? Lihatlah sekitarmu! Semua burung sibuk sekali. Ada yang mencari makanan, membangun sarang, dan sebagainya," kata magpie.

Sebelum burung hantu menjawab, magpie sudah pergi dengan acuh tak acuh. Lalu ketika burung hantu akan tidur lagi. Tiba-tiba, ia merasakan seekor burung kecil terbang di atas kepalanya. Saat ia membuka mata, ia melihat burung tomtit (sejenis burung pipit) sedang mengumpulkan ranting pohon untuk membuat sarang.   

Burung hantu mengawasi tomtit yang sedang sibuk.
     "Suatu hari aku juga akan membangun sarangku," pikir burung hantu.
   
Malam telah tiba. Udara saat itu sangat dingin. Burung hantu menjadi gemetar kedinginan. Ia menekankan sayap ke tubuhnya dan teringat sarang tomtit yang hangat.
     "Andaikan saja aku bisa tidur di sarang sehangat itu," pikir burung hantu.
   
Malam semakin dingin. Rasa-rasanya burung hantu akan mati oleh dinginnya malam. Tapi, pagi pun tiba dan matahari terbit. Burung hantu mulai merasa hangat lagi. Ia lupa pada keinginannya membangun sarang dan tertidur lagi.
Begitulah seterusnya burung hantu yang malas. Ia tidak pernah membangun sarangnya.


Pesan moral : Jangan jadi anak pemalas. Orang yang malas akan merugi. Jadilah anak yang mandiri dan suka bekerja keras.
Read more
Anak-anak jahat yang tertipu (dongeng dari India)



Dahulu kala, hiduplah seorang kakek tua yang kaya raya. Ketika ia merasa ajalnya sudah dekat, ia membagi seluruh hartanya pada empat orang anaknya. Namun, kakek tua tidak kunjung meninggal. Justru, ia semakin sehat setiap hari.

Keempat anak kakek tua bukan anak-anak yang baik. Mereka hanya menginginkan harta kakek tua. Mereka tidak pernah merawat kakek tua. Kakek tua tersiksa oleh sikap jahat anak-anaknya.



Suatu hari, ia bertemu dengan sahabat lamanya. Ia menceritakan segala gundah hatinya pada sahabatnya itu.
Sahabat kakek tua itu pun memberikan usul,
     "Begini saja. Besok, aku akan datang ke rumahmu membawa empat karung berisi batu dan kerikil. Aku akan katakan bahwa karung itu berisi emas dan permata sebagai bayaran atas utang-utangku padamu. Kau katakan pada anak-anakmu bahwa empat karung itu akan kau wariskan setelah kau meninggal."
Kakek tua setuju dengan usul temannya itu.



Keesokan harinya, sahabat itu datang ke rumah kakek tua dan memberikan empat karung berisi kerikil.
Keempat anak kakek tua langsung bersikap baik. Mereka merawat kakek tua. Mereka takut tidak kebagian warisan empat karung emas dan permata.

Akhirnya, kakek tua meninggal dunia dengan tenang. Keempat anaknya dengan serakah membuka empat karung warisn kakek tua. Betapa kagetnya mereka karena tidak menemukan emas dan permata, justru menemukan batu dan kerikil. Barulah mereka sadar selama ini mereka ditipu oleh kakek mereka dan sahabatnya.



Pesan moral : Jangan jadi anak yang jahat. Sayangilah orangtuamu yang telah membesarkanmu sejak kecil. Patuhi dan rawatlah orangtuamu tanpa mengharapkan imbalan.
Read more
Monday, December 16, 2013
Katak nakal mengerjai tikus (dongeng dari Nigeria)



Suatu hari, katak sedang berjalan-jalan seorang diri. Ia melihat tikus berjalan menghampirinya.

    "Itu tikus yang bodoh. Aku akan mengerjainya, hihihi...." kata katak dalam hati.

    "Selamat pagi Tuan Tikus. Kau nampak segar bugar hari ini?" sapa katak.

    "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" jawab tikus.

    "Ah, aku juga sedang santai saja nih. Jika engkau tidak sibuk, bagaimana kalau kita main bersama," kata katak.

    "Baiklah, aku tidak sibuk," kata tikus.

Mereka pergi bersama. Katak melompat-lompat dan tikus berjalan. Katak hendak melakukan ulah nakalnya.

    "Biarlah aku ikat salah satu kaki depanmu ke salah satu kaki belakangku. Jadi, engkau tidak akan tertinggal," kata katak.

    "Baiklah," jawab tikus.

Katak mengambil akar dan mengikat kaki depan tikus. Lalu, mengikatkan ke kaki belakangnya. Jadi, saat katak melompat, tikus harus ikut melompat. Mereka tertawa bersama-sama.
Awalnya mereka pergi ke ladang gandum. Katak memakan serangga dan tikus memakan gandumnya. Lalu, katak mengajak tikus ke sebuah kolam. Ia hendak melompat ke kolam. Tikus pun berteriak ketakutan.

     "Jangan masuk ke dalam kolam, Tuan Katak! Kau tahu aku takut air," pinta tikus.

Tapi, katak tertawa senang dan berkata, "Kau jarang mandi. Kau harus mandi hari ini!"
Tikus mencoba melepaskan diri. Tapi, katak hanya tertawa. Saat katak melompat, seekor elang datang menyambar tikus. Karena terikat dengan tikus, katak pun terbawa dan ikut dimakan elang.
Akhirnya, matilah keduanya.


Mendengar nasib katak dan tikus, binatang-binatang lain berkata, "Itu balasan bagi katak yang hendak mengerjai tikus."


Pesan moral : Jangan jadi anak yang jahil dan suka mengerjai orang lain. Sebab, kamu akan rugi dan dimusuhi banyak teman. Selain itu, jangan bermain permainan yang berbahaya. Sebab, kamu bisa celaka.    
Read more
Saturday, December 14, 2013
Rubah di dalam sumur (dongeng Yunani)



Suatu hari, rubah jatuh ke dalam sumur. Untunglah ia bisa berpegangan pada akar yang tumbuh di dinding sumur. Jika tidak, rubah pasti tenggelam dalam air sumur.
Tidak lama kemudian, serigala lewat di dekat sumur itu dan melihat rubah di dalamnya.

    "Hai rubah, bagaimana bisa kau jatuh ke dalam sumur?" tanya serigala.

    "Ah, tidak, aku sengaja masuk ke dalam sumur", jawab rubah.

    "Apa maksudmu?" tanya serigala lagi.

    "Saat ini, seluruh negeri sedang dilanda kekeringan. Sumur ini adalah satu-satunya sumber air yang bisa mengobati rasa haus ribuan binatang di sekitar sini. Para binatang telah mengadakan pertemuan. Mereka memintaku untuk menahan air sumur agar tidak turun kebawah. Jadi, aku kini sedang melakukan tugas," kata rubah panjang lebar.
   
    "Apa hadiah yang engkau dapatkan?" tanya serigala.
   
    "Mereka akan memenuhi seluruh kebutuhanku. Aku tidak lagi harus berburu. Mereka akan memberiku persediaan daging yang banyak, terutama untuk musim dingin. Lagipula, aku hanya melakukan tugas ini sebentar. Para binatang sedang membuat tanggul untuk menahan air sumur. Sebentar lagi mereka datang," jawab rubah.


   
    "Hai rubah, bolehkah aku menggantikan tugasmu? aku juga ingin dapat hadiah daging," kata serigala yang sudah tertipu kata-kata rubah.
   
    "Tentu saja," kata rubah. "Tapi kau harus mengambil tali untuk mengeluarkanku, baru kau bisa menggantikanku," kata rubah.
   
Setelah itu, serigala mengambil tali dan megeluarkan rubah dari dalam sumur. Lalu, ia pun masuk ke dalam sumur dan bergantungan di akar.
Sesampainya di atas sumur, rubah membuang talinya dan tertawa, "Tuan serigala yang baik, kau bisa tinggal disana sampai kiamat."
Rubahpun pergi dan serigala hanya bisa marah karena sudah ditipu rubah.



Pesan moral : Jangan mudah terpengaruh oleh rayuan dan janji yang berlebihan dari orang lain. Jadi berhati-hatilah, sebab bisa membahayakan diri sendiri.
Read more
Thursday, December 12, 2013
Penyesalan gembala yang terlambat (dongeng Yunani)



    "Hero adalah anjing yang hebat," kata seorang gembala.
    "Sejak aku memiliki Hero, kambingku tidak pernah hilang seekor pun. Beberapa waktu lalu, Hero pernah diserang oleh serigala, tapi ia berhasil mengalahkannya. Sejak saat itu, tidak ada serigala yang berani datang".
   
    "Ya, ia memang anjing yang hebat," kata para tetangga.
   
    "Tapi, menurutku kau rugi memeliharanya. Porsi makannya sangat besar. Sama dengan porsi makan dua belas ekor anjing kampung. Padahal hanya dengan tiga ekor anjing kampung kamu bisa menjaga kambing-kambingmu," kata para tetangganya lagi.

    "Porsi makan Hero memang besar. Tapi, aku tidak mau berpisah darinya," kata gembala.

Esoknya, seorang bangsawan datang ke rumah gembala. Ia mendengar tentang kehebatan Hero.

    "Berapa harga Hero? Aku akan membelinya dengan harga 100 dong (mata uang Yunani)," kata bangsawan.

    "Aku tidak akan menjualnya. Dia teman baikku." kata gembala.

    "Kau bodoh sekali menolak uang sebanyak itu. Pikirkanlah seberapa banyak untungmu," para tetangga mempengaruhi gembala.

Gembala jadi ragu. "Baiklah aku akan menjualnya 100 dong," kata si gembala dengan sedih.



Hari itu, Hero dibawa oleh bangsawan. Lalu gembala membeli tiga anjing kampung seharga 5 dong. Ketiga anjing kampung itu akan menggantikan Hero menjaga kambing-kambingnya.    

Esoknya, para serigala mendengar kepergian Hero. "Hero telah pergi!Hero telah pergi! Sekarang kita bisa pesta daging kambing," kata salah satu serigala.
Tiga anjing kampung itu lari ketakutan saat melihat rombongan serigala. Serigala membunuh dan memakan seluruh kambing. Gembala datang terlambat.

     "Bodoh sekali aku. Seharusnya aku tidak terpengaruh kata-kata tetanggaku," kata gembala menyesali diri.
   
   
   
Pesan Moral : Pertimbangkan matang-matang apa yang akan kamu lakukan. Sebab, penyesalan akan datang belakangan. Jangan mudah tergoda oleh tawaran menggiurkan. Jika sudah terlambat, menyesalpun percuma saja.
Read more
Wednesday, December 11, 2013
Seekor unta dan tuannya (dongeng dari Arab Saudi)



Suatu malam, seekor unta mengintip ke dalam tenda saat tuannya sedang tidur.
     "Pasti hangat sekali di dalam sana," pikir unta.
   
     "Aku ingin juga tenda yang hangat untuk tidur," kata unta sambil memasukkan kepalanya ke dalam tenda.
   
     "Kau tidak keberatan aku masukkan kepalaku dalam tenda, kan?" kata unta pada tuannya.
     "Anginnya dingin sekali malam ini," ujar unta
   
     "Sama sekali aku tidak keberatan, masih banyak ruang di dalam tenda," jawab tuannya.
   
Tidak lama kemudian unta bertanya, "Tuanku yang baik, leherku kedinginan, kau tidak keberatan aku memasukkan leherku ke dalam tenda?"
 
     "Tidak, aku tidak keberatan," kata tuannya.
   
Unta memasukkan lehernya. Tapi, sesaat kemudian ia membangunkan tuannya yang sudah tidur dan berkata,

     "Dua kaki depanku kedinginan, boleh kan aku memasukkannya?"
   
Tuannya bergeser sedikit dan berkata, "Boleh, aku tahu ini malam yang dingin." Unta pun memasukkan kedua kaki depannya.

Tapi, ia kembali membangunkan tuannya dan berkata,

    "Pintu tenda terbuka karena ada badanku menghalangi. Angin masuk dan membuat badan kita berdua kedinginan. Bukankah sebaiknya aku masuk sekalian?" kata unta.
   
     "Ya, masuklah. Tendanya memang sempit. Tapi, aku tidak mau kau kedinginan," kata tuannya.


      Setelah unta memasukkan seluruh badannya, ia berkata, "Ya, tendanya memang tidak cukup untuk kita berdua. Jika kau keluar, aku pasti bisa berbaring. Jadi, pergilah!" untapun mendorong tuannya keluar.
Kini, unta ingin menguasai tenda untuk dirinya sendiri. Sungguh unta yang serakah.


Pesan moral : Jangan jadi anak serakah. Batasilah keinginanmu karena tidak semua hal bagus untuk dirimu. Ada kalanya kamu harus memberikan barang yang tidak bermanfaat bagimu kepada orang lain. Mungkin barang itu lebih bermanfaat bagi orang lain.
Read more
Tuesday, December 10, 2013
Guru Gampar dan empat muridnya ( dongeng dari Malaysia)



Dahulu kala di sebuah desa di Malaysia, ada seorang guru bernama Gampar. Semua orang menghormatinya dan memanggilnya Guru Gampar. Guru Gampar mempunyai empat orang murid yang masih muda dan bodoh. Guru Gampar selalu mengingatkan murid-muridnya agar tidak melakukan apapun sebelum ia suruh.

Suatu hari, Guru Gampar dan keempat muridnya bepergian menuju kota yang jauh. Mereka bepergian menggunakan gerobak yang ditarik oleh seekor sapi. Karena lelah, Guru Gampar tertidur sepanjang perjalanan di dalam gerobaknya.

Karena jalanan berbatuan, tubuh Guru Gampar terombang-ambing dan sorbannya jatuh ke jalan. Ke empat murid Guru Gampar melihat sorban gurunya jatuh. Tapi, karena patuh kepada ajaran gurunya, mereka tidak mengambilnya. Mereka tidak melakukan apa-apa sebelum disuruh Guru Gampar.

Lalu, saat Guru Gampar bangun dan diceritakan bahwa sorbannya telah jatuh di jalan, dia sangat marah.

  "Lain kali benda apa pun yang jatuh, ambillah!" perintah Guru Gampar.

Tidak lama kemudian, sapi penarik gerobak mengeluarkan kotoran di jalan. Keempat murid langsung turun dan mengambil kotoran sapi itu sesuai perintah guru mereka.

Guru Gampar merasa jijik melihat apa yang dilakukan murid-muridnya. Lalu, ia membuat daftar barang-barang yang boleh diambil jika jatuh dari gerobak.


   "Ambil barang-barang dalam daftar ini saja. Selain barang-barang dalam daftar ini, jangan diambil!" katanya.

Di perjalanan selanjutnya, gerobak tiba-tiba oleng dan Guru Gampar terlempar masuk ke sebuah selokan. Guru Gampar berteriak kepada murid-muridnya agar menariknya dari selokan.

    "Kami tidak bisa melakukannya, Guru. Namamu tidak ada dalam daftar yang kau buat," kata seorang murid.

Guru Gampar memohon keempat muridnya untuk menolongnya, tapi sia-sia.

    "Kami tahu kau sedang menguji kami, Guru," kata seorang murid.
   
    "Tapi kami tidak akan tertipu. Kami tidak akan melakukan apapun yang engkau tidak suruh. Kami selalu patuh kepadamu. Kau meminta kami menarikmu, tapi namamu tidak ada dalam daftar. jadi, kami tidak bisa meolongmu," kata murud yang lain.

    "Berikan daftar dan pena itu kepadaku!" teriak Guru Gampar.

Salah seorang murid pun melemparkan daftar dan pena itu ke arah gurunya. Lalu, Guru Gampar dengan susah payah menulis namanya dalam daftar itu.

Setelah itu, Guru Gampar melemparkan kembali daftar itu kepada muridnya. Setelah membaca ada nama gurunya dalam daftar itu, barulah keempat murid yang sangat patuh itu menarik guru mereka dari selokan.


Pesan moral : Dengarkanlah petunjuk gurumu dengan benar saat belajar. Jangan jadi anak yang bodoh. Agar kamu tidak bodoh, belajarlah dengan tekun.
Read more